“Rhoma Irama mengkomersilkan agama, Rhoma Irama mendangdutkan ayat suci Alquran”, demikian headline berita ketika Rhoma Irama merilis lagu Laailaahailallah yang termuat dalam album soundtrack film Raja Dangdut pertengahan tahun 1979.

Lagu ini memang cenderung “berani” karena memasukkan surat Al ikhlas di awal lagu dan selanjutnya melagukan terjemahan sebagai liriknya. Selama ini memang belum pernah ada yang berani memasukkan ayat Alquran ke dalam sebuah lagu, meski qasidah atau gambus sekalipun.

Keberanian Rhoma ini tak pelak mengundang pro kontra, bahkan KH Syukri Gozali, Ketua MUI saat itu sempat mengeluarkan pernyataan bahwa haram hukumnya membawakan ayat suci Alquran ke dalam sebuah lagu, apalagi dangdut yang kadung sebagai pengiring joget.

Kondisi pro dan kontra ini mengundang keprihatinan dari wartawan majalah Panji Masyarakat yaitu Fachri Hamka untuk mencoba mencari titik temu antara MUI dan pihak Rhoma Irama. Bagi Fachri, yang juga putra dari Buya Hamka, MUI terlalu cepat mengambil kesimpulan sebelum terlebih dahulu mendengar penjelasan dari Rhoma Irama bahkan ternyata Pak Kiai ini mengaku belum pernah mendengar lagu Laailaahailallah tersebut secara langsung, hingga pada akhirnya terselenggara pertemuan, yang oleh sebagian media disebut “Pengadilan” MUI terhadap Rhoma Irama dan ‘Soneta Grup’.

Acara “Pengadilan” tersebut diselenggarakan di aula Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Rhoma Irama hadir lengkap bersama Soneta dan juga Keluarganya. Dari MUI pun hadir jajaran pengurus yang dipimpin langsung KH Syukri Gozali.

Dalam pertemuan tersebut pihak MUI meminta Rhoma memperdengarkan langsung lagu Laailaahailallah yang menjadi polemik.

Apa yang terjadi setelah MUI mendengar langsung lagu Laailaahailallah tersebut? Pak Kyai langsung menyatakan bahwa lagu ini tidak bermasalah karena Rhoma membacakan surat Al ikhlas dengan benar, khusyu dan tidak diiringi alat musik, artinya Rhoma tidak melagukan Surat Al ikhlas, yang dilagukan Rhoma Irama adalah terjemahannya. Dan ini tidak dilarang. Pada penutup ‘kalam’-nya Pak Kyai tersebut malah meminta Rhoma untuk lebih banyak membuat lagu dakwah seperti lagu Laailaahailallah.

Mendengar pernyataan Kyai Syukri Ghozali, maka Rhoma Irama pun langsung menangis penuh haru atas apa yang disampaikan oleh pihak MUI. Fachri Hamka selaku penggagas acara pun merasa puas telah mempertemukan dua unsur yang mewakili umat Islam.

Bagaimanapun, Rhoma saat itu dipandang sebagai salah satu sosok musisi yang berada dalam barisan yang memperjuangkan Islam ditengah rezim yang tengah berupaya keras memperkuat kedudukannya dengan “menekan” lawan politik yang kebetulan berada dalam barisan “hijau”.

Keterlibatan aktif Rhoma Irama dan Soneta pada Pemilu 1977 memang membuat pemerintah memasukkan nama Rhoma Irama sebagai sosok yang patut diwaspadai sepak terjangnya. Meskipun tidak terlibat langsung sebagai pengurus atau anggota PPP, satu-satunya partai berasas Islam saat itu, kehadiran Rhoma dan Soneta di setiap Kampanye PPP nyata-nyata berhasil mengumpulkan massa terbesar, bahkan PPP berhasil mengimbangi dominasi Golkar sebagai partai penguasa, di DKI Jakarta.

Tak heran banyak yang menilai kasus lagu Laailaahailallah sengaja diletupkan untuk mendiskreditkan Rhoma Irama di mata umat Islam, khususnya MUI.

Dan bukan hanya kali itu saja lagu Laailaahailallah menjadi sorotan. Tahun 1983, ketika Soneta akan tampil dalam acara FFI di kota Medan, Rhoma sempat didatangi oleh beberapa anggota DPRD yang kebetulan beragama non Islam yang meminta agar ia tidak membawakan lagu Laailaahailallah dalam pertunjukan tersebut. Namun Rhoma tak surut, ia tetap membawakan lagu tersebut meskipun pada akhirnya pihak TVRI Medan mendadak mengganti acara ketika Rhoma Irama dan Soneta Grup tampil, padahal sebelumnya seluruh rangkaian acara disiarkan secara langsung.

Oleh: M Nur, Aktivis Soneta Mania.

SUMBER

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here